perasaan cinta
Dalam perasaan cinta di antara pasangan terkandung tiga komponen utama yaitu perasaan intim, gairah (passionate), dan komitmen. Di antara ketiga komponen tersebut, kegairahanlah yang merupakan komponen paling variatif dan sulit dikontrol. Dengan demikian, perasaan cinta antarpasangan dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, passionate love, yaitu cinta yang bergairah dan romantis, merupakan paduan dari keintiman dengan kegairahan di antara pasangan yang sedang jatuh cinta. Romantisme inilah yang membuat orang yang bercinta merasakan apa yang disebut P sebagai "greget". Dalam kategori itu, keduanya akan mengalami kegairahan fisik yang melandasi perasaan bergairah manakala mereka bertemu. Cinta romantis ini juga ditandai penilaian ideal tentang pasangannya sehingga dapat dipahami bila cinta romantis biasa disebut dengan istilah cinta buta. Orang yang sedang jatuh cinta seolah dibutakan oleh kegairahan yang menyertai sehingga kemampuan penilaian objektif tentang pasangannya pun seolah hilang, dan apa pun yang ditampilkan pasangannya benar-benar terkesan sangat ideal. Jadi, cinta romantis akan mempengaruhi penilaian diri orang yang jatuh cinta. Saat seseorang merasa jatuh cinta dan cintanya berbalas, maka ia akan merasa diterima, dihargai, dan ditempatkan dalam posisi diinginkan. Dengan demikian, dapat dipahami rasa percaya diri pun terangkat. Pada masa penuh gairah, mereka akan menjadi lebih toleran, lebih memunculkan perilaku yang diinginkan pasangannya sambil mengorbankan keinginan pribadi. Tentu saja cinta romantis pada suatu saat akan dihadapkan pada kenyataan hidup yang realistis. Pada umumnya, cinta romantis akan sirna dengan berjalannya waktu manakala mereka menikah karena cinta romantis banyak dipengaruhi unsur fantasi yang memabukkan. Kecuali itu, orang yang sedang jatuh cinta akan merasa kehadiran sesuatu yang baru dalam hati, yang tentu saja akan mengakibatkan berkembangnya kegairahan. Namun demikian, dengan berjalannya waktu dan semakin mantapnya keajekan relasi di antara keduanya, maka romantisme dalam bercinta secara perlahan akan sirna. Kedua, companionate love, yaitu cinta yang mengandung perasaan pertemanan mendalam. Cinta ini merupakan hasil kombinasi antara keintiman dan komitmen dengan keikatan pertemanan mendalam dengan orang tertentu dan membuat kebersamaan hidup dengan orang tersebut menjadi terasa lengkap, tenteram, nyaman, dan sejahtera. Jadi, cinta pertemanan akan lebih memuaskan dan stabil bila dibandingkan dengan cinta romantis. Ternyata cinta pertemanan inilah yang menjadi tonggak utama bagi keberlanjutan perkawinan penuh kasih pada pasangan. Keintiman relasi di antara mereka akan membuat mereka menikmati kebersamaan karena mereka bisa tertawa bersama, memiliki cara pandang saling mengisi, berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan, saling mengisi dan diisi dalam interaksi yang terjalin, mampu menjaga dan merawat interkomunikasi dalam kebersamaan, serta menguasai keterampilan mengelola konflik yang dihadapi.














0 Comments:
Post a Comment
<< Home